oleh

Ketua Penasehat FSI Menyayangkan, Gerakan 212 Dipakai Berpolitik

Penulis : Elwan 

Berantas.co.id – Jakarta. Mencuatnya nama La Nyalla Mattalitti yang sedang hangat diperbincangkan, La Nyalla Mattalitti yang tak bisa berlaga di Pilgub Jawa Timur 2018 karena tak mendapat rekomendasi dari Partai Gerindra. Padahal, Al-Khaththath menyebut La Nyalla merupakan salah satu dari lima tokoh yang diinginkan ulama dan Presidium Alumni 212 untuk menjadi kepala daerah.

Dengan adanya nama besar sebuah gerakan yang dinamai 212, seakan-akan gerakan tersebut merestui pencalonan La Nyalla dalam Pilgub Jatim. Atas permasalahan tersebut, Forum Syuhada Indonesia (FSI) menyatakan sikap tegas, melalui release yang dibuat oleh Ir. H. Arief Ikhsan selaku Ketua Dewan Penasehat FSI mengatakan, “FSI menyatakan sikap dengan tegas menolak adanya politisasi gerakan ummat Islam 212 yang dilakukan oleh segelintir aktivis dan ulama yang memiliki syahwat politik dan mencoba untuk mempolitisasi gerakan umat 212 untuk dimanfaatkan menjadi gerakan politik”.

Untuk itu, lanjut Arief, demi menjaga marwah 212 kami dari alumni 212 menegaskan, bahwa 212 adalah gerakan ummat untuk membela Agama dan bukan untuk tujuan politik praktis.

Arief juga menyatakan, jika ada aktivis ataupun ulama dan tokoh yang memiliki syahwat politik, maka lebih baik yang bersangkutan masuk kepartai politik atau mendirikan partai politik, tapi jangan mempolitisasi gerakan ummat Islam 212 menjadi gerakan dan kepentingan politik pribadi.

“Setiap orang berhak atas pilihannya, tidak bergantung pada satu ataupun sekelompok orang yang ingin memecah belah ummat, apalagi terlibat dalam dunia perpolitikan,” tegas Arief.

Akibatnya, seluruh mata tertuju pada hal tersebut, ada yang menduga gerakan 212 ditunggangi untuk kepentingan sekelompok orang. Terlebih, lanjut Arief, “kami sebagai Alumni 212 sangat menyayangkan atas perbuatan juga tindakan segelintir orang untuk memanfaatkan momentum tertentu, khususnya Pilkada 2018,” tukas Dewan Penasehat FSI.

Comments

comments

News Feed