<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ancaman Wartawan dari &#8220;Zona Nyaman&#8221; &#8211; BERANTAS.co.id</title>
	<atom:link href="https://www.berantas.co.id/tag/ancaman-wartawan-dari-zona-nyaman/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.berantas.co.id</link>
	<description>Berani Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 09 Aug 2025 06:08:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
	<item>
		<title>Ancaman Wartawan dari &#8220;Zona Nyaman&#8221;</title>
		<link>https://www.berantas.co.id/ancaman-wartawan-dari-zona-nyaman/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Aug 2025 06:08:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[ACTUAL]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Ancaman Wartawan dari "Zona Nyaman"]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.berantas.co.id/?p=78559</guid>

					<description><![CDATA[Editor redaksi Oleh: Wahyudi El Panggabean*) &#160; &#160; Berantas.co.id, &#8211; Hal terbaik <a class="read-more" href="https://www.berantas.co.id/ancaman-wartawan-dari-zona-nyaman/" title="Ancaman Wartawan dari &#8220;Zona Nyaman&#8221;" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Editor redaksi</p>
<p>Oleh: Wahyudi El Panggabean*)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berantas.co.id, &#8211; Hal terbaik dalam hidup sering menunggumu di jalan keluar zona nyamanmu.&#8221; &#8211; (Karen Salmansohn_Pakar Pengembangan Diri dari Amerika)</p>
<p>BURUNG adalah hewan yang melambangkan: kreativitas, kelincahan &amp; kebebasan.</p>
<p>Sayapnya, dirancang khusus agar menghasilkan daya angkat untuk terbang secara efisien. Membantunya bermanuver, belok arah serta mengatur kecepatan dan ketinggian terbang.</p>
<p>Dengan sayap, seekor burung, dengan sempurna melakukan gliding (meluncur) dan melakukan soaring (terbang tinggi) dengan memanfaatkan arus udara secara gesit dan lincah.</p>
<p>Tetapi, semua aktivitas cekatan dari prosesi terbang itu, dilakukan seekor burung untuk dua dalih: memenuhi kebutuhan hidup dan menghindari ancaman predator (pemangsa).</p>
<p>Lantas, bagaimana jika populasi burung hidup di habitat &#8220;zona-nyaman&#8221; dan bebas ancaman? Mereka hidup di alam terbuka dengan pasokan makanan stand-bye setiap saat plus bebas ancaman predator? Apakah mereka masih terbang tinggi serta perlu bermanuver di angkasa raya?</p>
<p>Wing&#8217;s Not to Fly. Punya sayap, tapi tidak bisa terbang. Itulah keunikan yang dipertontonkan sekitar 5.600 ekor populasi burung mandar pulau (Atlantisia rogersi).</p>
<p>Populasi burung ini_menurut situs mongabay.co.id mendiami sebuah Pulau Inaccessible Island (Pulau Tidak Dapat Diakses). Kawasan sangat terpencil Samudera Atlantik selatan.</p>
<p>Burung mandar ini begitu mungil, beratnya tak sampai seberat telur ayam, dengan bulu coklat, kaki hitam, dan mata merah. Pertanyaannya adalah: Bagaimana jenis ini ada di sana?</p>
<p>Menurut Martin Stervander, Ph.D adalah ahli biologi evolusi dan Peneliti Pasca-Doktoral dari University of Oregon nenek moyang burung ini telah menghuni pulau terpencil sekitar 1,5 juta tahun silam.</p>
<p>Kerabat terdekat burung ini, kata Stervander adalah burung mandar hitam (Laterallus jamaicon) di kawasan Amerika Selatan.</p>
<p>Sepertinya, nenek moyang burung-burung itu dulunya, terbang sekitar 2.174 mil dari Amerika Selatan dan kemudian mendarat di Innaccesable Island.</p>
<p>Tapi mungkin yang paling mengejutkan adalah, burung mandar Inaccessible Island kehilangan kemampuannya untuk terbang.</p>
<p>Ternyata, penyebabnya, karena mereka berada di &#8220;zona-nyaman&#8221;.</p>
<p>Di pulau ini, mereka bisa mendapatkan makanan – ngengat, berry, biji, dan cacing – dengan berjalan di tanah. Pulau ini juga bebas ancaman. Tidak ada mamalia atau predatornya. Jadi tidak ada urgensi untuk terbang menyelamatkan diri.</p>
<p>&#8220;Seiring waktu, karena seleksi alam, burung ini tidak mengembangkan mekanisme untuk terbang,&#8221; ujar Stervander.</p>
<p>Tragedi disfungsi sistem terbang populasi burung mandar ini, sesungguhnya adalah representasi dekadensi kreativitas serta motivasi berjuang berbagai penyandang profesi saat ini.</p>
<p>Era_semua fasilitas serba tersedia_kini, praktis menenggelamkan sebagian besar pekerja profesi ke area &#8220;zona nyaman&#8221;. Mereka bekerja di blok bebas tantangan.</p>
<p>Sebagai seorang instruktur jurnalis_ saya lebih kompeten menyandingkan tragedi kemerosotan daya juang ini_dengan fenomena terkini di dunia wartawan.</p>
<p>Tidak ada data valid, jumlah wartawan di Indonesia, saat ini. (Berkisar antara: 150 ribu hingga 250 ribu orang &amp; institusi media sekitar 47 ribu penerbitan).</p>
<p>Jika satu persen saja dari jumlah wartawan itu menjalankan tugas jurnalistik_sesuai koridor Kode Etik Jurnalistik Indonesia (KEJI) di bawah amanah Undang-Undang Pers No.40 Tahun 1999_diyakini kontribusinya pada masyarakat dan bangsa ini, sangat signifikan.</p>
<p>Sebab, seyogianya, Mereka para wartawan yang benar &#8211; benar bekerja sebagai wartawan sejati, mereka akan selalu menjunjung tinggi etika dan moral profesinya.</p>
<p>Mereka selalu siap menyuplai informasi kebenaran hasil.buruan mereka kepada publik serta senantiasa, mengontrol kekuasaan agar tetap di jalur kejujuran.</p>
<p>Sayangnya, harapan itu tidak mewujud. &#8220;Zona Nyaman&#8221; seperti: suplemen advertorial, kontrak pemuatan berita seremony dari pemerintah, black-money dari mafia-mafia BBM serta recehan dari rils rutin instansi terkait, adalah suntik bius bagi institusi media berita.</p>
<p>Akibatnya, ujung pena wartawannya pun mengalami &#8220;rusting&#8221; alias karatan. Karena, jarang digunakan untuk menggores kebenaran.</p>
<p>Riau, menempati posisi teratas dengan 6 ribu institusi media berita. Jumlah ini, tentu saja minimal berbanding lurus dengan jumlah wartawan media tersebut.</p>
<p>Artinya, dari segi kuantitas, institusi media sebanyak ini, jadi beban masyarakat juga. Kondisi ini diperparah para pengelola media yang diduga minim skill jurnalisme. Wing&#8217;s Not to Fly. Punya sayap tidak bisa terbang. Mengaku wartawan, &#8220;nulis&#8221; berita aja &#8216;gak bisa.</p>
<p>Kondisi ini bisa membuka peluang polemik tak berkesudahan. Toh, bagi saya pribadi apapun profesi yang ditekuni, skill profesi itu mesti dikuasai. Kode etik, adalah rambu-rambu untuk mengawal saat seseorang tengah menjalankan profesinya.</p>
<p>Tantangan dan kebutuhan adalah motivasi yang mendorong seorang Jurnalis untuk terbang tinggi menggunakan skill yang dipunyainya.</p>
<p>Tetapi jika Anda saat ini di &#8220;Zona Nyaman&#8221;, karena semua fasilitas diperoleh tanpa kreativitas tanpa ancaman, Anda berpeluang kehilangan &#8220;sayap&#8221; untuk terbang.</p>
<p>Jadilah Anda wartawan &#8220;pengemis&#8221; yang selalu necis, tanpa marwah. Apa boleh buat!</p>
<p>*)Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H. adalah Dirut, Lembaga Pendidikan Wartawan, Pekanbaru Journalist Center (PJC) dan Master Trainer dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://res.cloudinary.com/dpp9qu7vr/images/f_auto,q_auto/v1768333043/IMG-20250809-WA0014_1754719549188/IMG-20250809-WA0014_1754719549188.jpeg?_i=AA" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
