Kontri Adi k
Editor redaksi
Berantas.co.id, Tuapejat, Mentawai — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) kembali terjadi di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Setiap akhir pekan, antrean panjang tampak di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), khususnya di kawasan Tuapejat, ibukota kabupaten.
Menurut informasi dari Delau, Ketua DPD BPI KNPA Mentawai, kelangkaan ini terjadi di beberapa titik, termasuk SPBU kilometer 2, kilometer 10, dan juga di Sioban. Warga menduga ada ketidakwajaran dalam distribusi BBM yang menyebabkan pasokan cepat habis, meski pengiriman berlangsung rutin.
“Masyarakat bertanya-tanya, ke mana saja minyak itu pergi?” ujar Delau dalam pesan singkat kepada wartawan Minggu sore (4/5).
SPBU yang paling terdampak adalah SPBU Kompak dengan nomor 16.253.920 yang terletak di Jalan Raya Tuapejat KM 2, Desa Tuapejat, Kecamatan Sipora Utara. Hery Siregar, pemilik SPBU tersebut, mengakui bahwa mereka kewalahan melayani tingginya permintaan BBM.
“Kami harus melayani konsumen dari seluruh Pulau Sipora, padahal idealnya ada tiga lembaga penyalur. Namun, saat ini hanya SPBU kami yang beroperasi setiap hari dari pukul 07.00 hingga 22.00. Akibatnya, kuota BBM kami tidak cukup, dan sering kali stok habis sebelum malam,” ujar Hery.
Kelangkaan BBM di daerah kepulauan seperti Mentawai berdampak besar pada aktivitas nelayan, transportasi umum, dan logistik. Warga dan tokoh masyarakat mendesak pemerintah daerah dan Pertamina untuk segera mengevaluasi sistem distribusi dan memastikan keberadaan lembaga penyalur alternatif agar tidak terjadi ketergantungan pada satu titik layanan.