HABISKAN DANA 2,9 Milyar YAYASAN KIWARI SEGERA BANGUN PONDOK PESANREN LANSIA

Penulis : Joni chan

Editor : Redaksi

 

 

BERANTAS.co.id – Sleman –

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo melakukan peletakan batu pertama pembangunan Pondok Pesantren Lansia Ma’rifatullah, Sendangmulyo, Kapanewon Minggir, Selasa (15/3). Selain itu, Bupati juga meresmikan Masjid Jamilah sebagai bagian dari pondok pesantren.

Ketua Yayasan Kiwari, Supriadi mengatakan pondok pesantren akan menjadi tempat bagi lansia yang ingin memperdalam agama untuk mendekatkan diri dengan Tuhan. “Kita buat ponpes ini untuk mendoakan orang-orang tua kita agar khusnul khotimah,” tuturnya, Selasa (15/3).

Ia mengatakan untuk pembangunan awal akan membuat joglonya dahulu sebagai pusat kegiatan lansia. Setelah itu, akan dibangun asrama, dapur dan ruang makan. “Luas lahan 1852 meter persegi dengan biaya pembangunan kurang lebih 2,9 milyar rupiah,” katanya.

“Untuk daya tampung 25 orang lansia dan bisa berasal dari seluruh DIY dan Indonesia,” ujarnya.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo memberikan apresiasi dan menyambut gembira atas upaya pembangunan Pondok Pesantren Lansia Ma’rifatullah. Menurutnya, keberadaan Pondok Pesantren Lansia Ma’rifatullah akan meningkatkan pemahaman ilmu agama dikalangan lansia.

“Pesantren Lansia adalah tempat beraktivitasnya para insan lansia dengan mengisi hari tuanya dengan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk mengabdi kepada Allah SWT. Harapannya adalah ingin menggapai kebahagiaan di akhirat,” katanya.

Lebih lanjut, Kustini mengatakan pesantren lansia memiliki peranan yang besar dalam menciptakan kemandirian dan membimbing para santri lansia dalam meningkatkan kualitas hidup, terutama dalam memanfaatkan waktunya untuk belajar dan mengamalkan ajaran agama.

Ilya Fajar Maharika, ahli waris dan cucu pertama dari Mbah Siti Jamilah mengatakan inisiatif dari keluarga untuk mewakafkan sebidang tanah. “Kami melihat ponpes lansia ini tidak hanya penting untuk yang muda-muda, tapi untuk yang usia tua agar ada yang mengawal sampai khusnul khotimah,” tuturnya.

“Lansia menjadi warga yang aktif sampai hari tuanya secara spiritual, fisik, sosial, bahkan belajar terhadap hal-hal baru tanam-menanam dan sebagainya,” imbuhnya.

Ia menceritakan Mbah Siti Jamilah merupakan ibu rumah tangga yang sampai tuanya tetap aktif, seperti menganyam bambu.”Sebidang tanah ini cukup lama menjadi tegalan, ini wujud kerelaan dari anak-anaknya untuk memuliakan simbah dan orangtua secara umum,”tutupnya.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan