Berantas.co.id, Jakarta- Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Islam (PW GPI) Jakarta Raya mengadakan simposium nasional dengan tema ‘Pandangan kritis aktifis pemuda tentang Omnimbus Law’, bertempat di Restoran Mie Aceh, Cikini, Jakarta pusat, Rabu (28/10/2020).
Adapun pembukaan acara diawali pembacaan kalam Ilahi dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Narasumber yang menjadi pembicara adalah Ferly Syahadat (Tokoh Kepemudaan), Ismail Abdul Kadir (Aktifis Milenial), Yusuf Algifhary (Aktifis GPI). Sedangkan moderator Ahmad Syatiri dan sambutan Ketua PW GPI Jakarta Raya, Rahmat Himran sebagai Stadium General.
Ferly Syahadat mengatakan, “28 Oktober 1928, para pemuda merasa senasib dan tertindas maka muncullah sumpah pemuda, begitu juga lahir nya GPI sebagai pelopor mengkritisi pemerintah hingga saat ini disaat aktifis 98 mulai bergabung ke pemerintah, GPI tetap kritis kepada pemerintah,” kata Syahadat.
Pada saat itu 1998, sambung Syahadat yang merupakan aktifis 1998, saya minta dibubarkan Resimen Mahasiswa (Menwa) dengan menolak militerisme kampus dan lain sebagainya kami merasa terzolimi di era orde baru.
Sedangkan, Ismail Abdul Kadir berbicara tentang Sumpah pemuda adalah persamaan senasib bangsa yang dijajah jadi hanya pemuda yang mampu merubah visi misi pandangan reformasi pemerintahan.
“Refleksi kepemudaan sekarang ini bukan fisik tapi diskusi kesepahaman bersama nasib masa depan UU omnibus law dengan memantapkan bersama ketika komunikasi tidak didengar jalan terakhir adalah aksi demo”, ujarnya.
Yusuf Algifhary aktivis GPI, “melihat perkembangan saat ini, sekarang umat Islam yang kritis diperlakukan tak wajar. Yaitu dengan munculnya orang gila, bahkan markas GPI yang terletak di Menteng Raya 58 diserbu oleh Brimob, ini yang membuat umat Islam harus hati-hati jaman sekarang ini,” tukasnya.
Omnibus law adalah lingkaran setan, orde baru hancur orde reformasi juga mulai keder, sungguh aneh jaman ini umat Islam di buat diadu oleh sesama umat Islam meski mayoritas tapi tertindas masa yang aneh, tambah Yusuf.
Acara yang digelar dengan santai ini dihadiri oleh para aktivis, pemuda dan media berlangsung menarik, kesimpulannya GPI tidak pernah menolak cadar, celana cingkrang, maupun Pancasila yang ditolak adalah Syiah dan Isis. (Red)





