Kontri: adi kampai
Editor redaksi
Berantas.co.id, Dharmasraya – Dalam upaya menekan laju penularan tuberkulosis (TBC) yang kian mengkhawatirkan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sungai Rumbai, Kabupaten Dharmasraya, menghadirkan terobosan baru melalui layanan edukasi daring bertajuk “Kacio”.
Inovasi berbasis digital ini memungkinkan masyarakat berkonsultasi seputar penyakit TBC secara langsung dan gratis hanya melalui ponsel mereka.
“Layanan ini kami buka karena melihat adanya lonjakan kasus TBC yang cukup tinggi dalam dua tahun terakhir,” ujar Direktur RSUD Sungai Rumbai, dr. Sujito, saat ditemui Senin, 22 Juli 2024.
Ia menyebut, berdasarkan data rumah sakit, pada tahun 2022 terdapat 145 kasus suspek dengan 55 kasus positif. Setahun kemudian, jumlah tersebut melonjak tajam: 237 terduga dan 86 di antaranya terkonfirmasi positif TBC.
“Itu berarti peningkatan mencapai 50 persen. Dan yang lebih memprihatinkan, sebagian besar penderitanya berada pada usia produktif,” katanya.
Melalui Kacio, RSUD Sungai Rumbai membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai penyakit paru yang menular ini.
Layanan ini dapat diakses 24 jam penuh melalui nomor WhatsApp 0812-6771-426, dan dijalankan oleh tenaga kesehatan berpengalaman. Masyarakat bisa bertanya seputar pengertian TBC, penyebab, tanda dan gejala, penanganan, hingga tahapan pengobatan yang harus diikuti hingga tuntas.
“Kadang masyarakat malu atau takut datang ke rumah sakit. Dengan Kacio, cukup lewat pesan teks, mereka bisa langsung konsultasi tanpa merasa sungkan. Ini juga mencegah stigma terhadap pasien TBC,” terang Sujito.
Nama “Kacio” sendiri diambil dari bahasa Minang yang berarti “kaca”. Filosofinya adalah keterbukaan dan kejelasan. Lewat layanan ini, RSUD Sungai Rumbai ingin menciptakan komunikasi yang transparan antara pasien dan tenaga medis, sekaligus memperluas literasi kesehatan di tengah masyarakat.
Inovasi ini tak datang tanpa alasan mendesak. Indonesia saat ini masih menjadi salah satut negara dengan beban TBC tertinggi di dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2023 menempatkan Indonesia di peringkat kedua global, setelah India, dalam jumlah kasus TBC. Sumatra Barat, termasuk Kabupaten Dharmasraya, menjadi salah satu daerah yang mencatat lonjakan kasus secara signifikan dalam lima tahun terakhir.
“Karena itu, dibutuhkan pendekatan baru. Kami tidak hanya menunggu pasien datang, tapi kami yang harus menjemput mereka dengan informasi. Teknologi adalah jembatan yang paling cepat dan murah saat ini,” kata Sujito.
Menurutnya, Kacio bukan hanya layanan konsultasi, tapi juga bagian dari strategi jangka panjang rumah sakit dalam upaya pengendalian TBC. Dalam waktu dekat, RSUD Sungai Rumbai juga akan mengembangkan dashboard pemantauan pasien TBC dan menjalin kerja sama dengan puskesmas.





