Kontri Adi kampai
Editor redaksi
Berantas.co.id, AGAM, 25 Mei 2025 — Proyek penanganan longsor senilai Rp1,7 miliar di ruas jalan nasional Padang Sawah–Manggopoh, Kabupaten Agam, kembali disorot. Dugaan pengerjaan “asal jadi” mencuat, namun pihak pelaksana dan pejabat proyek tak tinggal diam. Mereka angkat bicara, menegaskan bahwa pekerjaan berjalan sesuai standar teknis dan prinsip akuntabilitas.
Proyek ini merupakan bagian dari program Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Provinsi Sumatera Barat, dengan pendanaan penuh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2025. Kontrak bernomor 08/PKK/SK-PJN1-Bb.03.23.1.5/IV/2025 ditandatangani pada 10 April 2025, dengan masa pelaksanaan 180 hari kalender. Nilai kontraknya mencapai Rp1.765.586.000.
CV ARG Cahaya Nusantara bertindak sebagai kontraktor pelaksana, sementara pengawasan diserahkan kepada konsultan supervisi PT EXXO Gamindo Perkasa, KSO PT Arci Pratama Konsultan. Papan proyek di lokasi secara gamblang mencantumkan bahwa dana berasal dari pajak rakyat, sebagai pengingat akan pentingnya transparansi.
Menanggapi pemberitaan yang menyebut proyek ini “asal jadi”, seorang staf CV ARG Cahaya Nusantara yang enggan disebutkan namanya menjelaskan bahwa pekerja telah dibekali alat pelindung diri (APD) sesuai prosedur. “Saat dokumentasi diambil, pekerja sedang istirahat makan siang. APD kami standby. Bahkan pekerja sempat bertanya, ‘Apa perlu kami pakai APD sebelum dipotret?’” ungkapnya.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.5 BPJN Sumbar, Nasir, turut memberikan penjelasan. Ia menegaskan bahwa aspek keselamatan kerja (K3) telah dilengkapi sebelum pekerjaan dimulai. Pemasangan terpal di lokasi, kata Nasir, bukan untuk menutupi pekerjaan melainkan melindungi pekerja dari panas ekstrem. “Terpal dipasang agar pekerjaan tetap bisa berjalan di bawah terik matahari,” ujarnya melalui pesan WhatsApp.
Terkait kualitas material, Nasir menyebut bahwa kawat bronjong dibeli dari distributor resmi, Toko Besi Sumber Baru. Sementara batu pengisi bronjong diambil dari kuari berizin. Variasi ukuran batu, katanya, adalah hal wajar dan telah disortir sesuai spesifikasi teknis Bina Marga. “Ukuran datang bervariasi, lalu diseleksi langsung di lapangan,” jelasnya.
Dengan klarifikasi ini, pihak kontraktor dan PPK berharap opini publik dapat kembali obyektif. Proyek ini, menurut mereka, dijalankan sesuai ketentuan yang berlaku dan tetap mengutamakan mutu serta keselamatan. Publik tentu berharap proyek ini rampung tepat waktu dan memberikan manfaat nyata bagi kelancaran lalu lintas di jalur nasional Sumatera Barat.











