oleh

TUMBANGNYA REZIM MELALUI KONSTITUSI DEMOKRASI

Dari : M. Rizal Fadillah, SH
Oleh : Alam. S

Berantas.co.id, Bandung, 20 April 2019 – Deklarasi kemenangan Prabowo-Sandi berdasar Real Count yang masuk dinilai menyenangkan para pendukung. Satu hal yang terepresentasi dengan ini adalah semangat perlawanan.

Semua tahu ini deklarasi dini, tapi semua juga memahami ini adalah deklarasi perlawanan, melawan rekayasa Quick Count dan melawan kecurangan-kecurangan vulgar yang terjadi dimana-mana demi memenangkan Jokowi dengan segala cara.

Tanda tumbang rezim Jokowi semakin jelas, segala upaya panjang yang diagendakan secara sistematis gagal total. Diawali dengan presidential treshold 20% yang tidak masuk akal, sistem pemilihan umum serentak yang rumit dan mahal, doktrin perang total, penggalangan aparat hingga ke Desa, orang gila bisa memilih, kotak suara yang terbuat dari kardus, hingga kartu suara tercoblos dan terakhir pasukan bayaran Quick Count yang menipu publik itu semua rontok oleh perlawananan rakyat. Kesuksesan rekayasa dan kecurangan Jokowi di tahun 2014 tak menemukan momentum yang sama, kni orang sudah kenal dengan wajah politik Jokowi.

“All President Men” sepertinya murung melihat pergerakkan hasil Pemilu. Dunia ikut melihat dan tak menyukai langkah Jokowi, preman mengancam membuat rusuh Jakarta, Panglima mengancam mengamankan Negara. Rakyat mulai konsolidasi untuk membela kejujuran dan kebenaran, bangsa ini tak rela dipermainkan dan dibodohi dengan permainan politik kotor demi langgengnya kekuasaan, Aparat keamanan diuji integritasnya apakah membela penguasa atau membela keadilan dan kebenaran.

Jokowi yang tumbang oleh proses demokrasi melalui pemilihan umum harus diterima oleh semua pihak bangsa indonesia. Tak perlu risau dengan kepemimpinan baru Prabowo-Sandi, pengakuan sehat akan menyehatkan semua. Akan tetapi jika tetap ada usaha untuk tak menerima perubahan kepemimpinan, maka jalan orang sakit jiwa yang ditempuh. Sejarah unik telah membuktikan Jokowi sukses dipilih konstituen gila di rumah sakit Jiwa itulah catatan aneh di Indonesia. Pengakuan kekalahan secara fair adalah kesiapan menata bangsa ke depan dengan baik, Gotong royong bukan slogan kosong tapi harus dibuktikan dalam konsistensi sikap politik.

Menunda pengakuan kekalahan dengan upaya-upaya tak sehat hanya menunda tumbang dengan rasa yang lebih sakit, apalagi dengan melakukan mobilisasi semua akses negara. Rakyat tak perlu dihadap-hadapkan karena didunia manapun tak ada yang bisa mengalahkan kekuatan rakyat.

Pak Jokowi cukup sampai sini memimpin bangsa Indonesia, rakyat sudah ingin amanat segera diserahkan kepada pemimpin baru yang mana konstitusi mengatur pergantian kepemimpinan itu. Hormatilah, “Begitu tulisan M. Rizal Fadillah, SH, yang juga merupakan peserta pada kontestasi Pemilu Pileg 2019 untuk DPR RI.

Comments

comments

News Feed